Rabu, 01 Desember 2021

Membuat Kesepakatan Kelas - Budaya Positif

Salam Sehat dan Bahagia bagi kita semua…

Mengapa keyakinan kelas, mengapa tidak peraturan kelas saja? Pertanyaan berikut adalah, “Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan helm pada saat mengendarai kendaraan roda dua/motor?” Kemungkinan jawaban Anda adalah untuk ‘keselamatan’. Pertanyaan berikut adalah, “Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan masker dan mencuci tangan setiap saat?” Mungkin jawaban Anda adalah “untuk kesehatan dan/atau keselamatan”. Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita sebut sebagai suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang disepakati bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan. Murid-murid pun demikian, mereka perlu mendengarkan dan mendalami tentang suatu keyakinan, daripada hanya mendengarkan peraturan-peraturan yang mengatur mereka harus berlaku begini atau begitu. Pembentukan Keyakinan Kelas:
• Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rincidan konkrit. 
• Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal. 
• Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif. 
• Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas. 
• Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.  
• Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat. 
• Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.

Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap guru. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.Kesepakatan yang disusun sebaiknya mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Oleh karena itu,dalam kesepakatan kelas gunakan kalimat positif sebab lebih mudah dipahami murid dibandingkan kalimat negatif
 
Adapun kesepakatan yang saya lakukan di kelas digambarkan dari foto berikut :









Dari proses keyakinan kelas yang telah dilakukan saya mendapatkan pelajaran bahwa keyakinan kelas sangat bermanfaat dalam :
  • Menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid
  • Memunculkan keterlibatan murid dalam menentukan kelas yang diimpikan sehingga murid lebih bertanggung jawab akan keputusan yang mereka buat bersama-sama
  • Menumbuhkan komunikasi efektif antara murid dan guru





Sabtu, 13 November 2021

1.4.a.10.2 Aksi Nyata - Budaya Positif - Forum Berbagi Aksi Nyata

Salam Sehat dan Bahagia bagi kita semua…

Tetap semangat belajar, belajar, dan belajar….

Setiap teori akan lebih berdampak jika memang kita aplikasikan langsung.
Begitu pula dalam Pendidikan Guru Penggerak, aksi nyata diperlukan untuk melihat praktik langsung dari teori yang sudah di dapatkan. Dengan dilakukannya aksi nyata kita akan mendapatkan feedback yang lebih akurat.

Saya akan berbagi tentang aksi nyata yang telah dan tetap dalam proses perbaikan dari Modul 1 yaitu Paradigma dan Visi Guru Penggerak. Disini saya masih dalam proses belajar dan belajar, pasti masih banyak kekurangannya. Saran dan kritik yang membangun sangat saya perlukan untuk perbaikan ke depannya.

Semoga dapat menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi kita semua….

Terima Kasih….




Minggu, 24 Oktober 2021

Modul 2.1. Mulai dari Diri


Program Pendidikan Guru Penggerak

Mayank Sari Fitricia
CGP Angkatan 3 Kabupaten Batu Bara

____________________________________________

Modul 2.1. Mulai dari Diri 

Pertanyaan reflektif terkait Pembelajaran Berdiferensiasi

Question #1

1

Response is required
Response is required

Saya adalah guru SD yang pasti memiliki murid yang beragam di dalam kelas. Kurang lebih 20 orang murid yang saya hadapi setiap harinya di kelas. Mereka berasal dari agama yang berbeda, suku, dan latar belakang keluarga yang berbeda pula. Selain itu kemampuan mereka juga berbeda, minat dan bakat juga berbeda, Semua keberagaman ini harus bisa disatukan di dalam kelas, sehingga saya sering mengingatkan mereka akan semboyan Bhineka Tunggal Ika.  

 

Banyak pengalaman saya dalam melakukan proses pembelajaran di dalam kelas dengan keberagaman tersebut. Saya pernah memiliki anak inklusif di kelas, sehingga saya perlu memutar otak untuk memberikan pembelajaran yang objektif untuk setiap murid saya. Belum lagi minat dan mood murid saya yang berbeda beda, membuat murid saya senang belajar matematika yang sangat tidak disukainya, atau merayu murid untuk berani tampil ke depan. Apalagi jika saya dihadapkan dengan murid yang berada dikelas rendah.


Question #2

2

Response is required
Response is required

Awalnya saya sama sekali tidak mengetahui tentang pembelajaran berdiferensiasi, namun saya sempat membaca sekilas di media internet bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu


Question #3

3

Response is required
Response is required

Belajar Kubus dan Balok Jadi Seru! Siswa Kelas VI Eksplorasi Bangun Ruang dengan Cara Kreatif

Pembelajaran Konstruksi dan Visualisasi Kubus dan Balok – Kelas VI Materi Konstruksi dan Visualisasi Kubus dan Balok merupakan salah satu ma...